Powered By Blogger

Senin, 13 Januari 2014

NASIONALISME, ISLAMISME DAN MARXISME

NASIONALISME, ISLAMISME DAN MARXISME

NASIONALISME, ISLAMISME DAN MARXISME

Sebagai Aria Bima Putra, yang lahirnya dalam zaman perjuangan, maka INDONESIA MUDA inilah melihat cahaya hari pertama-tama dalam zaman yang rakyat-rakyat Asia, lagi berada dalam perasaan tak senang dengan nasibnya. tak sengan dengan nasib ekonominya, tak senang dengan nasib politiknya, tak senang dengan segala nasib yang lain-lainnya.
Zaman "senang dengan apa adanya", sudah berlalu.
Zaman baru: zaman muda, sudahlah datang sebagai fajar yang terang cuaca.

Zaman teori kaum kuno, yang mengatakan, bahwa "Siapa yang ada dibawah, harus terima senang, yang ia anggap cukup harga duduk dalam perbendaharaan riwayat, yang barang kemas-kemasnya berguna untuk memelihara siapa yang lagi berdiri dalam hidup", kini sudahlah tak mendapat penganggapan lagi oleh rakyat-rakyat Asia itu. Pun makin lama makin tipislah kepercayaan rakyat-rakyat itu, bahwa rakyat-rakya yang mempertuankannya itu, adalah sebagai "voogd" yang kelak kemudian hari akan "ontvoogden" mereka; makin lama makin tipislah kepercayaannya, bahwa rakyat-rakyat yang mempertuankannya itu ada sebagai saudara tua, yang dengan kemauan sendiri akan melepaskan mereka, bilamana mereka sudah dewasa, akil balig, atau masak.

Sebab tipisnya kepercayaan itu adalah bersendi pengetahuan, bersendi keyakinan, bahwa yang menyebabkan kolonisasi itu bukanlah keinginan pada kemasyhuran, bukan keinginan melihat dunia asing, bukan keinginan merdeka, dan bukan pula oleh karena negeri rakyat yang menjalankan kolonisasi itu ada terlampau sesak oleh banyaknya penduduk, sebagai yang telah diajarkan oleh Gustav Klemm, akan tetapi asalnya kolonisasi ialah teristimewa soal rezeki.

"Yang pertama-tama menyebabkan kolonisasi ialah hampir, selamanya kekurangan bekal hidup dalam tanah airnya sendiri", begitulah Dietrich Schafer berkata. Kekurangan rezeki, itulah yang menjadi sebab rakyat-rakyat Eropa mencari rezeki di negeri lain! Itulah pula yang menjadi sebab rakyat-rakyat itu menjajah negeri-negeri, dimana mereka bisa mendapat rezeki itu. Itulah pula yang membikin "ontvoogding"-nya negeri-negeri jajahan oleh negeri-negeri yang menjajahnya itu, sebagai suatu barang yang sukar dipercayainya. Orang tak akan gampang-gampang melepaskan bakul nasinya, jika pelepasan bakul itu mendatangkan matinya.!

Begitulah, bertahun-tahun, berwindu-windu, rakyat-rakyat Eropa itu mempertuankan negeri-negeri Asia. Berwindu-windu rezeki Asia masuk ke negerinya. Teristimewa Eropa baratlah yang bukan main tambah kekayaannya.

Begitulah tragisnya riwayat-riwayat negeri-negeri jajahan! dan keinsyafan akan tragis inilah yang menyadarkan rakyat-rakyat jajahan itu, sebab, walau lahirnya sudah kalah dan takluk, maka spirit of Asia masihlah kekal. Roh Asia masih hidup sebagai api yang tiada padamnya! Keinsyafan akan tragis inilah pula yang sekarang menjadi nyawa pergerakan rakyat di Indonesia kita. yang walaupun dalam maksudnya sama, ada mempunyai tiga sifat: NASIONALISTIS, ISLAMISTIS DAN MARXISTIS-lah adanya.

Mempelajari, mencari hubungan antara ketiga sifat itu, membuktikan, bahwa tiga haluan ini dalam suatu negeri jajahan tak guna berseteru satu sama lain, membuktikan pula, bahwa tiga gelombang ini bisa bekerja bersama-sama menjadi satu gelombang yang maha besar dan maha kuat, satu ombak taufan yang tak dapat ditahan terjangnya, itulah kewajiban yang kita semua harus memikulnya.

Akan hasil atau tidaknya kita menjalankan kewajiban yang seberat dan semulia itu, bukanlah kita yang menentukan. Akan tetapi kita tidak boleh putus-putus berdaya upaya, tidak boleh habis-habis ikhtiar menjalankan kewajiban ikut mempersatukan gelombang-gelombang tadi itu! Sebab kita yakin, bahwa persatuanlah yang kelak kemudian hari membawa kita kearah terkabulkan impian kita: Indonesia merdeka.!

Entah bagaimana tercapainya persatuan itu, entah pula bagaimana rupanya persatuan itu, akan tetapi tetaplah, bahwa kapal yang membawa kita ke Indonesia Merdeka itu, ialah kapal persatuan adanya.! Mahatma, jurumudi yang akan membuat dan mengemudikan kapal persatuan itu kini barangkali belum ada, akan tetapi yakinlah kita pula, bahwa kelak kemudian hari mestilah datang saatnya, yang Sang Mahatma itu berdiri ditengah kita!

Itulah sebabnya kita dengan besar hati mempelajari dan ikut meratakan jalan yang menuju persatuan itu. Itulah maksudnya tulisan yang pendek ini.



Di Bawah Bendera Revolusi

Sepatah Kata


Sepatah Kata

Saya mendapat warisan dari kakek buyut saya sebuah buku lawas yang berjudul DIBAWAH BENDERA REVOLUSI, buah pena Bung Karno setebal 600-an halaman. Buku tersebut masih dalam ejaan lama dan saya akan usahakan untuk menulis dalam ejaan yang telah disempurnakan (EYD). Karena buku tersebut sudah mulai sedikit rusak dan tidak terurus, maka saya berniat untuk menuliskan buku tersebut ke blog saya. Semoga bisa dipetik manfaatnya. Semoga dengan sedikit usaha ini, bisa sedikit membangun kembali semangat persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Yang mungkin dalam tulisan Bung Karno ini tidak sepenuhnya saya sependapat, tapi mengingat kata orang Arab, bahwa hikmah itu adalah barang yang hilang dari orang mukmin, maka dimanapun mendapatkannya maka ambillah.
Selamat membaca....(Alex Iskandar)


Semenjak 40 tahun yang lampau, waktu itu Bung Karno masih belajar di Hogere Burgerschool (HBS) Surabaya, beliau sudah mulai gemar mengarang. Kegemaran itu bertambah lagi semasa beliau menjadi mahasiswa Technische Hogeschool (THS) di Bandung. Kemudian datanglah zaman yang dalam sejarah kehidupan Bung Karno dapat dianggap masa pencurahan pikiran dalam karang mengarang, yaitu semasa Bung Karno bersama-sama dengan kawan-kawan sefaham beliau, mendirikan dan menggerakkan partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Indonesia (Partindo) serta semasa beliau diasingkan ke Endeh dan akhirnya ke Bengkulen.

Suatu kenyataan sekarang ialah bahwa Bung Karno sendiri sama sekali tidak lagi menyimpan karangan-karangan tersebut. berberapa karangan yang telah dapat dikumpulkan semasa bung Karno mulai menjalankan hukuman pembuangan, terpaksa ditinggalkan dan kemudian hilang tidak berketentuan karena tempat beliau yang sering berpindah-pindah. Demikian pula sahabat-sahabat karib beliau serta perpustakaan-perpustakaan umum, tidak banyak yang menyimpan karangan-karangan Bung Karno.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, oleh perseorangan, pernah sebagian dari karangan-karangan tersebut diterbitkan dalam bentuk brosur. Karena mengingat bahwa buah pikiran Bung Karno baik yang berbentuk sebagai karangan maupun yang berupa pidato-pidato dari semenjak zaman penjajahan hingga pada saat ini, belum pernah diterbitkan dalam bentuk yang teratur, sedangkan keinginan untuk itu oleh sahabat-sahabat karib Bung Karno serta oleh khalayak ramai berkali-kali diajukan kepada beliau, maka kami mendapat kepercayaan untuk menjalankan tugas tersebut. Semenjak lima tahun yang lampau, kami telah berusaha sedapat-dapatnya untuk menunaikan kewajiban tersebut sebaik-baiknya.

Dalam melaksanakan tugas tersebut ternyata, bahwa tidak sedikit kesukaran yang harus kami hadapi. Pada zaman penjajahan, untuk menyimpan karangan-karangan para pemimpin pergerakan, terutama buah pena Bung Karno, diperlukan keberanian bagi para penyimpannya. Lagi pula, karangan-karangan Bung Karno tersebut tidak pernah berada dalam satu tangan. Berdasarkan itulah, maka usaha pengumpulan ini tidak seluruhnya dapat berhasil baik dan sempurna.

Selama lima tahun terus menerus telah dilakukan hubungan dan surat menyurat dengan alamat-alamat di dalam dan diluar negeri dengan pengharapan agar supaya usaha pengumpulan buah pikiran Bung Karno dapat lebih diperlengkap . Walaupun mereka yang dihubungi selalu menunjukkan kesediaan untuk memberi bantuan sebanyak mungkin, namun hingga saat ini, belum juga diperoleh hasil untuk mengumpulkan buah Pena Bung Karno yang ditulis antara tahun 1917 hingga tahun 1925. Bahkan karangan-karangan dalam tahun-tahun berikutnyapun masih ada beberapa yang belum terkumpul.Ini berarti bahwa kumpulan buah pikiran Bung Karno yang oleh beliau diberi nama : "DIBAWAH BENDERA REVOLUSI", belumlah merupakan kumpulan yang lengkap dan sesempurna-sempurnanya.

Akan tetapi dengan pertimbangan bahwa untuk menanti sampai terkumpulnya seluruh buah pikiran Bung Karno, masih memerlukan waktu yang lama, maka sebagai langkah pertama, buku : "DIBAWAH BENDERA REVOLUSI" ini (terdiri dari dua jilid), kami persembahkan kepada masyarakat Indonesia, dengan pengertian.kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam buku ini mudah-mudahan dapat disempurnakan dalam penerbitan lainnya. Patut dijelaskan bahwa Bung Karno tidak mempunyai kesempatan penuh untuk membaca kembali seluruhnya karangan-karangan beliau yang dimuat dalam buku ini.

akhirulkalam, kepada semua pihak, baik di dalam maupun diluar negeri serta handai taulan yang hingga pada saat terbitnya buku ini dengan ikhlas telah memberikan sumbangan dan bantuan, dengan ini kami sampaikan ucapan banyak terima kasih, karena dengan tiada bantuan itu maka penerbitan "DIBAWAH BENDERA REVOLUSI" tidaklah mungkin selengkap seperti sekarang ini.


Jakarta, 17 Agustus 1959

                                                                                                                 Panitia:
                                                                                                                 K. Gunadi
                                                                                                                 H. Muallif Nasution