Powered By Blogger

Senin, 13 Januari 2014

Di Bawah Bendera Revolusi

Sepatah Kata


Sepatah Kata

Saya mendapat warisan dari kakek buyut saya sebuah buku lawas yang berjudul DIBAWAH BENDERA REVOLUSI, buah pena Bung Karno setebal 600-an halaman. Buku tersebut masih dalam ejaan lama dan saya akan usahakan untuk menulis dalam ejaan yang telah disempurnakan (EYD). Karena buku tersebut sudah mulai sedikit rusak dan tidak terurus, maka saya berniat untuk menuliskan buku tersebut ke blog saya. Semoga bisa dipetik manfaatnya. Semoga dengan sedikit usaha ini, bisa sedikit membangun kembali semangat persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Yang mungkin dalam tulisan Bung Karno ini tidak sepenuhnya saya sependapat, tapi mengingat kata orang Arab, bahwa hikmah itu adalah barang yang hilang dari orang mukmin, maka dimanapun mendapatkannya maka ambillah.
Selamat membaca....(Alex Iskandar)


Semenjak 40 tahun yang lampau, waktu itu Bung Karno masih belajar di Hogere Burgerschool (HBS) Surabaya, beliau sudah mulai gemar mengarang. Kegemaran itu bertambah lagi semasa beliau menjadi mahasiswa Technische Hogeschool (THS) di Bandung. Kemudian datanglah zaman yang dalam sejarah kehidupan Bung Karno dapat dianggap masa pencurahan pikiran dalam karang mengarang, yaitu semasa Bung Karno bersama-sama dengan kawan-kawan sefaham beliau, mendirikan dan menggerakkan partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Indonesia (Partindo) serta semasa beliau diasingkan ke Endeh dan akhirnya ke Bengkulen.

Suatu kenyataan sekarang ialah bahwa Bung Karno sendiri sama sekali tidak lagi menyimpan karangan-karangan tersebut. berberapa karangan yang telah dapat dikumpulkan semasa bung Karno mulai menjalankan hukuman pembuangan, terpaksa ditinggalkan dan kemudian hilang tidak berketentuan karena tempat beliau yang sering berpindah-pindah. Demikian pula sahabat-sahabat karib beliau serta perpustakaan-perpustakaan umum, tidak banyak yang menyimpan karangan-karangan Bung Karno.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, oleh perseorangan, pernah sebagian dari karangan-karangan tersebut diterbitkan dalam bentuk brosur. Karena mengingat bahwa buah pikiran Bung Karno baik yang berbentuk sebagai karangan maupun yang berupa pidato-pidato dari semenjak zaman penjajahan hingga pada saat ini, belum pernah diterbitkan dalam bentuk yang teratur, sedangkan keinginan untuk itu oleh sahabat-sahabat karib Bung Karno serta oleh khalayak ramai berkali-kali diajukan kepada beliau, maka kami mendapat kepercayaan untuk menjalankan tugas tersebut. Semenjak lima tahun yang lampau, kami telah berusaha sedapat-dapatnya untuk menunaikan kewajiban tersebut sebaik-baiknya.

Dalam melaksanakan tugas tersebut ternyata, bahwa tidak sedikit kesukaran yang harus kami hadapi. Pada zaman penjajahan, untuk menyimpan karangan-karangan para pemimpin pergerakan, terutama buah pena Bung Karno, diperlukan keberanian bagi para penyimpannya. Lagi pula, karangan-karangan Bung Karno tersebut tidak pernah berada dalam satu tangan. Berdasarkan itulah, maka usaha pengumpulan ini tidak seluruhnya dapat berhasil baik dan sempurna.

Selama lima tahun terus menerus telah dilakukan hubungan dan surat menyurat dengan alamat-alamat di dalam dan diluar negeri dengan pengharapan agar supaya usaha pengumpulan buah pikiran Bung Karno dapat lebih diperlengkap . Walaupun mereka yang dihubungi selalu menunjukkan kesediaan untuk memberi bantuan sebanyak mungkin, namun hingga saat ini, belum juga diperoleh hasil untuk mengumpulkan buah Pena Bung Karno yang ditulis antara tahun 1917 hingga tahun 1925. Bahkan karangan-karangan dalam tahun-tahun berikutnyapun masih ada beberapa yang belum terkumpul.Ini berarti bahwa kumpulan buah pikiran Bung Karno yang oleh beliau diberi nama : "DIBAWAH BENDERA REVOLUSI", belumlah merupakan kumpulan yang lengkap dan sesempurna-sempurnanya.

Akan tetapi dengan pertimbangan bahwa untuk menanti sampai terkumpulnya seluruh buah pikiran Bung Karno, masih memerlukan waktu yang lama, maka sebagai langkah pertama, buku : "DIBAWAH BENDERA REVOLUSI" ini (terdiri dari dua jilid), kami persembahkan kepada masyarakat Indonesia, dengan pengertian.kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam buku ini mudah-mudahan dapat disempurnakan dalam penerbitan lainnya. Patut dijelaskan bahwa Bung Karno tidak mempunyai kesempatan penuh untuk membaca kembali seluruhnya karangan-karangan beliau yang dimuat dalam buku ini.

akhirulkalam, kepada semua pihak, baik di dalam maupun diluar negeri serta handai taulan yang hingga pada saat terbitnya buku ini dengan ikhlas telah memberikan sumbangan dan bantuan, dengan ini kami sampaikan ucapan banyak terima kasih, karena dengan tiada bantuan itu maka penerbitan "DIBAWAH BENDERA REVOLUSI" tidaklah mungkin selengkap seperti sekarang ini.


Jakarta, 17 Agustus 1959

                                                                                                                 Panitia:
                                                                                                                 K. Gunadi
                                                                                                                 H. Muallif Nasution

Tidak ada komentar:

Posting Komentar